![]() |
| Foto: Jurnalis Netti Herawati |
DENPASAR | Benuapost.com – Ucapan Netti bukan omong kosong. Netti, jurnalis investigasi TPPO & Kejahatan Siber yang sudah sering turun langsung membongkar jaringan scam di Kamboja, dari Sihanoukville hingga Poipet, sejak lama memperingatkan: Bali tinggal tunggu waktu. (30/4)
Dan hari ini terbukti. Bali resmi menyandang status baru: markas kejahatan transnasional skala global!
Polisi Bali mengobrak-abrik sarang penjahat di sebuah hotel mewah Kuta pada 27 April lalu. Hasilnya bikin merinding: 26 warga asing ditangkap basah menjalankan operasi scam paksa gaya China. Hotel bintang lima berubah jadi “kantor neraka” kamar dipenuhi komputer canggih, ribuan ponsel, perangkat internet, sampai 9 unit Starlink di atap buat kabur dari blokir.
Modus Keji: Disekap, Dipaksa Nipu Dunia
Operasi kilat ini meledak setelah Kedutaan Besar Filipina di Jakarta melapor. Beberapa WNI Filipina nekat minta tolong: mereka dikurung, paspor disita, dipaksa jadi operator telepon scam 24 jam.
Saat digerebek, polisi menyita barang bukti yang bikin muak: jaket FBI palsu, lencana Departemen Kehakiman AS, sampai skrip penipuan internasional. Tersangka? Campuran Filipina dan Kenya. Mirisnya, beberapa tak punya dokumen sama sekali. Budak zaman modern, tepat di jantung Kuta!
Bau TPPO & TPF Menyengat
Kasus ini bukan scam biasa. Indikasi Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dan penahanan ilegal sudah di depan mata. Hotel mewah Rp150 juta/bulan disewa diam-diam. Siapa yang bayar? Tetangga berbisik: “Bosnya dari Negeri Tirai Bambu.” Tapi polisi masih irit bicara soal keterlibatan warga China.
“Polanya sama persis dengan yang saya temukan di Kamboja,” tegas Netti. “Guest house atau hotel disewa, korban diimpor, disekap, dipaksa kerja. Bedanya cuma lokasi: dulu Sihanoukville, sekarang Kuta.”
Polisi: “Kami Tidak Tutup Mata”
“Kami dalami semua kemungkinan, termasuk TPPO dan penyekapan paksa,” tegas sumber di kepolisian. Tapi publik muak dengan kalimat diplomatis.
Teguran Keras Buat Penguasa!
TPF, Imigrasi, Polri berhenti main kucing-kucingan! Kolaborasi harus digaspol, bukan rapat doang. Jangan alergi media. Transparansi itu kunci, bukan aib. Kalau terus tutup diri, jangan salahkan rakyat bila curiga ada yang “main mata” dengan mafia.
Bali bukan lagi surga wisata. Pulau Dewata sedang jadi medan perang melawan sindikat global. Hari ini Kuta, besok Seminyak, lusa Ubud?
Pertanyaan pedasnya: Setelah 26 orang ini, siapa dalang yang masih tidur nyenyak di balik tembok hotel mewah? Dan berapa banyak korban yang masih menjerit di dalam kamar, dipaksa nipu dunia demi bos yang tak tersentuh?
Rakyat menunggu nyali, bukan konferensi pers basa-basi.
Tim Investigasi | Pantau terus update-nya!
✍️Penulis: Netti Herawati


