BenuaPost

PIALA DUNIA FIFA 2026

Van Imhoff 1942: Tragedi Kemanusiaan yang Lama Terlupakan di Perairan Nias

Van Imhoff 1942

Pada tanggal 10 Mei 1940, kabar jatuhnya Belanda ke tangan Nazi Jerman menggemparkan seluruh negeri jajahan. Kota Rotterdam hancur lebur digempur pasukan Hitler. Perlawanan tentara Belanda berhasil dimatikan. Ratu Wilhelmina pun terpaksa kabur ke London, Inggris pada 15 Mei 1940.

Semua orang Jerman di Hindia Belanda tidak mendapatkan perlindungan hukum lagi dan mulai ditangkap oleh polisi kolonial dan diinternir dalam berbagai kamp. Setelah penyerangan Jepang terhadap Pearl Harbour, semua tawanan yang berada di pulau Sumatra dipindahkan ke Sibolga untuk kemudian dipindahkan ke Srilanka dengan menggunakan tiga buah kapal. Van Imhoff merupakan kapal ketiga yang diberangkatkan, dua kapal lainnya tiba dengan selamat di Srilanka.

Jatuhnya Negeri Belanda itu menimbulkan keresahan di kalangan pejabat tinggi di seluruh wilayah jajahannya, terutama di Hindia Belanda yang memiliki kekayaan alam melimpah. Menurut Nino Oktorino dalam Nazi di Indonesia: Sebuah Sejarah yang Terlupakan, dalam keadaan seperti itu Gubernur Jenderal A.W.L. Tjarda van Starkenborgh Stachouwer langsung mengumumkan keadaan darurat di Hindia Belanda.

Kapal Van Imhoff dengan 477 tawanan dan 110 awak kapal tidak mempunyai ciri-ciri yang khas yang menandai bahwa kapal itu kapal yang membawa tahanan perang sehingga pada tanggal 19 Januari 1942 kapal itu diserang oleh pesawat Angkatan Laut Kekaisaran Jepang dan tenggelam di samudra Hindia. Pada saat kapal tenggelam, semua awak kapal orang Belanda termasuk Kapten kapal menyelamatkan diri dengan perahu penyelamat sedangkan ruang tahanan dibiarkan tetap terkunci. Enam jam setelah penyerangan, kapal Van Imhoff tenggelam bersama 281 orang di dalamnya (Walter Spies dan Hans Overbeck termasuk di antara mereka). Kejadian ini kemudian dipandang sebagai suatu kejahatan perang.(Wikipedia)

Sebagian tawanan lainnya berhasil menyelamatkan diri dengan sebuah perahu penyelamat dan sebuah sampan yang ditinggalkan oleh awak kapal. Di hari berikutnya, sebuah pesawat Catalina militer Hindia Belanda lewat di atas mereka dan memberitahukan keberadaan mereka kemudian sebuah kapal, kapal Boelongan, datang untuk menolong orang-orang Belanda yang mungkin berada di sana. Semua yang terapung adalah orang Jerman sehingga mereka ditolak untuk ikut ke atas kapal. Dari 478 tawanan, hanya 65 orang yang dapat mencapai pulau Nias. Di sana mereka kembali ditahan oleh pihak Belanda.

Sumber: Wikipedia dan Historia


Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال