Dari Tangan Petani Sepakat Segenep, Menuju Industri Kakao Aceh yang Berdaulat


Oleh: Sabaruddin, S.Tr.M

Ketua Ikatan Pelajar Mahasiswa Aceh Tenggara (IPMAT) Banda Aceh / Anak Petani Kakao

Aceh Tenggara, Tanoh Alas Metuah, bukan sekadar hamparan lembah yang dipagari Taman Nasional Gunung Leuser. Bagi hampir separuh masyarakat yang menggantungkan hidup pada sektor pertanian, tanah ini adalah harapan yang tumbuh di antara dahan-dahan pohon kakao.

Sebagai anak yang tumbuh besar di tengah aroma fermentasi biji kakao, saya menyaksikan sendiri bagaimana komoditas ini menjadi salah satu napas ekonomi masyarakat. Namun, di balik potensi besar tersebut, terdapat realitas yang pahit: puluhan ton hasil kakao dari Aceh Tenggara masih banyak keluar daerah dalam bentuk biji mentah. Nilai tambahnya kemudian dinikmati daerah lain.

Potensi Raksasa di Pundak Petani Aceh Tenggara

Aceh Tenggara merupakan salah satu sentra utama produksi kakao di Aceh. Komoditas ini bukan sekadar tanaman perkebunan, tetapi menjadi sumber penghidupan bagi ribuan keluarga petani.

Yang lebih penting, perkebunan kakao di Aceh Tenggara didominasi oleh perkebunan rakyat. Artinya, setiap kilogram biji kakao yang dihasilkan merupakan buah dari kerja keras petani, dari proses menanam, merawat, memanen hingga mengolah hasil pascapanen.

Dengan luas lahan kakao yang mencapai puluhan ribu hektare dan jumlah petani yang signifikan, kakao seharusnya dapat menjadi instrumen penting untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus mengurangi kemiskinan.

Namun, ketergantungan pada penjualan biji mentah membuat posisi tawar petani masih lemah. Harga sangat dipengaruhi oleh tengkulak, rantai distribusi yang panjang, kualitas hasil panen, serta fluktuasi harga pasar.

Harapan Petani Kakao: Harga Layak dan Masa Depan yang Pasti

Sebagai anak petani kakao, saya kerap mendengar keluhan orang tua setelah masa panen.

"Harga cokelat sedang turun."

Kalimat sederhana itu mungkin terdengar biasa bagi sebagian orang. Namun, bagi petani, kalimat tersebut bisa berarti tertundanya kebutuhan keluarga, biaya sekolah anak, cicilan, hingga kebutuhan untuk membeli pupuk dan biaya perawatan kebun.

Petani pernah merasakan harga biji kakao berada pada kisaran Rp180.000 hingga Rp200.000 per kilogram. Pada masa itu, kakao seolah menjadi "emas hijau" yang memberikan harapan besar bagi keluarga petani.

Namun, ketika harga jatuh, harapan itu ikut tergerus. Bahkan, dalam periode tertentu, petani harus menerima harga yang jauh lebih rendah.

Petani akhirnya berada dalam situasi yang melelahkan: bekerja keras ketika harga tinggi, tetapi tetap bertahan ketika harga jatuh.

Lalu, apa yang bisa diperbuat pemerintah?

Pertanyaan itu terus muncul dari para petani.

Karena persoalan kakao bukan hanya menyangkut harga sebuah komoditas. Di balik setiap kilogram biji kakao terdapat kehidupan keluarga, pendidikan anak, kebutuhan rumah tangga dan masa depan ribuan masyarakat Aceh Tenggara.

Hilirisasi: Memutus Rantai Nilai yang Timpang

Di sinilah hilirisasi menjadi penting.

Selama ini, kita terlalu sering menjual bahan baku tanpa mengoptimalkan nilai tambah di daerah asalnya. Padahal, margin ekonomi terbesar justru berada pada proses pengolahan dan produk turunannya.

Biji kakao dapat diolah menjadi cocoa liquor, cocoa butter, cocoa powder, hingga berbagai produk makanan dan minuman bernilai tinggi.

Ketika kakao Aceh Tenggara dikirim keluar daerah dalam bentuk bahan mentah, kesempatan untuk menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan daerah, dan membangun industri lokal ikut terbawa pergi.

Karena itu, Aceh membutuhkan keberanian untuk mengubah pola tersebut.

Jika PT Pembangunan Aceh (PEMA) mengambil peran dalam membangun industri pengolahan kakao, maka dampaknya tidak hanya dirasakan oleh perusahaan, tetapi juga oleh petani dan masyarakat luas.

Hilirisasi setidaknya dapat memberikan tiga dampak besar:

Pertama, stabilitas harga.
Pabrik pengolahan lokal dapat menjadi salah satu pembeli utama hasil petani sehingga tercipta pasar yang lebih kompetitif dan membuka peluang harga yang lebih stabil.

Kedua, penyerapan tenaga kerja.
Industri pengolahan membutuhkan tenaga kerja dari berbagai bidang. Ribuan pemuda Aceh, termasuk lulusan perguruan tinggi, memiliki peluang untuk bekerja di daerah sendiri tanpa harus selalu merantau.

Ketiga, peningkatan nilai ekonomi daerah.
Aktivitas industri akan menciptakan perputaran ekonomi baru, meningkatkan aktivitas perdagangan, jasa, serta berpotensi memberikan kontribusi terhadap pendapatan daerah.

Menjawab Tantangan Kebutuhan Dunia

Permintaan terhadap kakao dan produk olahannya merupakan bagian dari industri global yang besar. Kakao digunakan bukan hanya untuk industri makanan dan minuman, tetapi juga dalam berbagai produk kosmetik dan kebutuhan industri lainnya.

Aceh Tenggara memiliki potensi besar untuk mengambil bagian dalam rantai pasok tersebut.

Persoalannya, kebutuhan pasar dunia yang besar belum otomatis membuat kehidupan petani di pelosok Kutacane menjadi lebih sejahtera.

Di sinilah terdapat jurang yang harus diputus: antara kebutuhan pasar global dengan kesejahteraan petani di tingkat paling bawah.

PT PEMA dapat mengambil posisi sebagai jembatan antara petani Aceh dan pasar yang lebih luas.

Sebagai BUMD strategis Aceh, PT PEMA diharapkan tidak hanya melihat kakao dari sisi keuntungan bisnis, tetapi juga dari sisi pembangunan ekonomi rakyat.

Mandat PT PEMA untuk Kesejahteraan Rakyat

Kami di IPMAT mendorong PT PEMA untuk mulai memikirkan langkah konkret dalam membangun ekosistem hilirisasi kakao Aceh.

Pertama, investasi infrastruktur pengolahan.
Membangun atau menggandeng investor untuk menghadirkan unit pengolahan kakao di lokasi strategis, khususnya di sentra produksi Aceh Tenggara.

Kedua, membangun kemitraan dengan petani.
Petani harus ditempatkan sebagai mitra utama, bukan sekadar pemasok bahan baku. Peningkatan kualitas fermentasi, pengeringan, sortasi dan standar pascapanen harus menjadi bagian dari program kemitraan.

Ketiga, membuka akses pasar yang lebih luas.
PT PEMA dapat membangun jaringan perdagangan dan kemitraan dengan industri pengolahan, baik nasional maupun internasional, sehingga petani memiliki akses pasar yang lebih baik.

Keempat, membangun ekosistem industri dari hulu hingga hilir.
Hilirisasi tidak boleh berhenti pada pembangunan pabrik. Harus ada keterhubungan antara petani, koperasi, pengumpul, industri pengolahan, lembaga pembiayaan hingga pasar.

Dampak Luas bagi Masa Depan Aceh

Bayangkan jika ribuan petani kakao Aceh Tenggara memiliki pasar yang jelas dan harga yang lebih stabil.

Pendapatan keluarga meningkat. Anak-anak petani memiliki kesempatan pendidikan yang lebih baik. Daya beli masyarakat tumbuh. Usaha kecil berkembang. Lapangan kerja tercipta.

Pada akhirnya, industri kakao tidak hanya berbicara tentang cokelat. Ia berbicara tentang masa depan manusia.

Sebagai anak petani, saya tidak ingin melihat masa depan masyarakat Aceh Tenggara terus berada dalam ketidakpastian harga pasar.

Kita memiliki lahan. Kita memiliki petani. Kita memiliki sumber daya manusia. Kita memiliki komoditas yang bernilai ekonomi. Dan dunia memiliki pasar.

Yang kita butuhkan adalah keberanian untuk mengambil langkah.

Hilirisasi kakao tidak boleh lagi sekadar menjadi wacana di meja seminar. Ia harus menjadi gerakan ekonomi yang nyata.

Kehadiran PT Pembangunan Aceh (PEMA) sebagai BUMD strategis harus mampu menjadi salah satu motor yang mengonversi potensi agraris Aceh menjadi kesejahteraan nyata bagi rakyat.

Sudah saatnya petani tidak hanya menjadi produsen bahan mentah.

Sudah saatnya Aceh Tenggara tidak hanya dikenal sebagai penghasil kakao.

Sudah saatnya emas cokelat Aceh Tenggara berdaulat di negeri sendiri.

Dan ketika suatu hari nanti secangkir cokelat berasal dari biji kakao yang ditanam petani di Tanoh Alas Metuah, diolah oleh tenaga kerja Aceh, dipasarkan oleh industri Aceh dan memberikan kesejahteraan bagi masyarakat Aceh, saat itulah kita benar-benar dapat mengatakan:

Hilirisasi telah bekerja untuk rakyat.


Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال