Yogyakarta – Koordinasi Purna-Pekerja Migran (KOPPMI) menyelenggarakan Sarasehan dan Talkshow bertajuk “Kebersamaan dan Solidaritas untuk Reintegrasi Bermartabat di Negeri Sendiri” sebagai ruang konsolidasi dan berbagi pengalaman bagi purna-pekerja migran yang tengah menghadapi berbagai tantangan setelah kembali ke Indonesia. (13/6/26)
Kegiatan yang didukung oleh Beranda Migran, Jempol Food, Baleroso, Taman Cipta Karya Nusantara, dan MSA Kargo ini mempertemukan purna-pekerja migran dari Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kulon Progo untuk mendiskusikan realitas reintegrasi yang kerap luput dari perhatian publik dan pembuat kebijakan.
Dalam sesi talkshow, empat purna-pekerja migran membagikan pengalaman mereka menghadapi berbagai hambatan pascamigrasi. Mulai dari sulitnya mengakses layanan pemerintah, terbatasnya dukungan untuk membangun usaha, minimnya kesempatan memperoleh pekerjaan yang layak, hingga stigma dan diskriminasi yang masih melekat terhadap mantan pekerja migran.
Berbagai pengalaman tersebut menunjukkan bahwa persoalan pekerja migran tidak berhenti ketika mereka kembali ke tanah air. Reintegrasi masih menjadi mata rantai yang lemah dalam tata kelola pelindungan pekerja migran Indonesia. Selama ini perhatian negara cenderung berfokus pada proses penempatan dan perlindungan saat bekerja di luar negeri, sementara kebutuhan purna pekerja migran setelah pulang sering kali belum mendapatkan perhatian yang setara.
"Kepulangan seharusnya menjadi awal kehidupan yang lebih baik, bukan awal dari perjuangan baru yang harus dihadapi sendirian," menjadi salah satu pesan yang mengemuka dalam diskusi tersebut.
Para peserta menyoroti perlunya kebijakan reintegrasi yang lebih komprehensif, termasuk akses terhadap pekerjaan layak, dukungan kewirausahaan yang berkelanjutan, layanan kesehatan mental, perlindungan sosial, serta mekanisme pendampingan yang mudah dijangkau oleh purna pekerja migran dan keluarganya.
Kegiatan ini turut menghadirkan Muhammad Ilyas Prakananda dari BP2MI DIY sebagai perwakilan pemerintah. Kehadiran pemerintah diharapkan tidak hanya menjadi forum seremonial, tetapi juga menjadi langkah awal untuk membangun dialog yang lebih substantif antara purna pekerja migran dan pemangku kebijakan. Pengalaman hidup purna migran harus menjadi dasar dalam penyusunan program dan kebijakan yang menyangkut masa depan mereka.
Selain persoalan ekonomi, diskusi juga menggarisbawahi pentingnya kesehatan mental sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari proses reintegrasi. Banyak pekerja migran kembali ke Indonesia dengan membawa pengalaman traumatis, tekanan psikologis, maupun beban sosial yang membutuhkan perhatian serius.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, peserta mengikuti sesi penyuluhan kesehatan mental yang membahas pengenalan stres, strategi pengelolaan tekanan psikologis, pentingnya dukungan sosial, serta akses terhadap bantuan profesional. Sesi ini menegaskan bahwa reintegrasi yang bermartabat tidak hanya diukur dari kemampuan memperoleh penghasilan, tetapi juga dari terjaminnya kesejahteraan psikologis dan kualitas hidup purna pekerja migran.
Melalui kegiatan ini, KOPPMI menegaskan bahwa purna pekerja migran bukan sekadar objek program pembangunan, melainkan warga negara yang berhak memperoleh perlindungan, penghormatan, dan kesempatan yang setara setelah kembali ke tanah air. Negara dan seluruh pemangku kepentingan perlu memastikan bahwa reintegrasi bukan hanya menjadi jargon kebijakan, melainkan benar-benar diwujudkan dalam bentuk dukungan yang konkret, inklusif, dan berkelanjutan.
Kontak:
Wulan Mawarsih - Koordinator KOPPMI Kota Yogyakarta
081393992660
🔍Sumber: ruminews



Mantab
BalasHapusMenyala mamak²ku
BalasHapus